Jumat, 23 November 2012

Keluarga Sakinah Menurut Al-Quran


Keluarga (rumah tangga) merupakan unit masyarakat terkecil dalam tatanan sosial sebagai unit awal (pondasi utama) penentu kuata atau lemahnya masyarakat yang lebih besar lagi. Bila keluarga-keluarga yang ada dalam komunitas (masyarakat) itu mawaddah warahmah, teratur, dan tentram (sakinah) tentu akan mewujudkan sebuah masyarakat besar (bangsa/ negara) yag baik (khaerul ummah), teratur dan tentram pula. Namun sebaliknya bila keluarga-keluarga yang ada dalam komunitas itu rapuh, bobrok dan non-fungsional tentu akan mengakibatkan lemahnya suatu masyarakat besar (bangsa/ negara) bahkan membawa pada kehancuran. Sebagai konsekuwensi dari asumsi diatas adalah bila berobsesi untuk mewujudkan tatanan masyarakat besar (bangsa/ negara) yang baik, aman, tentram dan sejahtera haruslah dimulai dengan menciptakan rumah tangga (keluarga) yang mawadah dan warahmah.
            Menciptakan keluarga (rumah tangga) yang baik dan benar (sejahtera dan bahagia) yang merupaka cita-cita hampir setiap manusia, pada dasarnya adalah bagaimana mendayagunakan keluarga pada dasar tujuan, fungsi dan sistem keluarga, karena tanpa menempatkan tiga dasar diatas hanya akan mengakibatkan sebuah perkawinan (awal sebuah keluarga) yang hampa tanpa makna kemanusiaan dan makna spiritual. Selain itu pula untuk mewujudkan sebuah kelurga yang unit masyarakat terkecil yang bahagia itu tentunya membutuhkan peraturan-peraturan yang khusus untuk mengayomi anggota-anggotanya, untuk memperbaiki keadaannya, untuk menyelesaikan pertengkaran-pertengkaran yang dihadapi oleh anggotanya (anggota keluarga), seperti juga unit masyarakat yang lainnya.
Pada saat ini, tidak sedikit orang yang mengabaikan aturan-aturan dalam berkeluarga, malah beranggapan bahwa tujuan keluarga ahanyalah unutk mempertaankan komunitas manusia (reproduksi/ seksual) atau hanya tujuan ekonomis (untuk mencapai kekayaan), atau tujuan politis (misalnya : demi jabatan), dan sebagainya. Dari sebagian tujuan berkeluarga seperti di sebutkan diatas tadi, hal ini mengakibatkan makna keluarga menjadi dangkal, kering, dan hampa tujuan agung. Cinta kasih hanyalah menjadi kata-kata belaka sebagai kemunafikan dari tujuan tertentu misalnya eksploitasi seksual, ekonomi, dan lain-lain. Kasih sayang menjadi barang berharga yang tak pernah ditemukan. Lebih dari itu, apabila tujuan keluarga tersebut diatas, maka kebahagiaan hanyalah obsesi utopis belaka.
Lebih-lebih lagi, kehidupan keluarga (rumah tangga) dalam zaman seperti sekarang ini ketika modernisasi, sekularisasi, dan teknikalisasi serta teknologi informasi melanda dunia global telah semakin menyebabkan struktur rumah tangga modern goyah dan tercerabut dari makna imanen dan transcendental. Sehingga fungsi keluarga semakin tergeser dan tidak sedikit pada akhirnya menjadi krisis. Misalnya, dalam kehidupan di dunia barat dan sebagian orang timur berpresepsi bahwa rumah tangga hanyalah sekedar tempat parkir di malam hari terutama berfungsi sebagai tempat melakukan hubungan seksual, ini semua terjadi karena telah tercabutnya makna keagungan berkeluarga dan akibat dari semua itu kita pun sering mendengar serta di kejutkan oleh berbagai peristiwa yang di beritakan oleh media massa beberapa tahun terakhir adanya seorang istri yang berbuat serong, seorang suami yang menyeleweng, pemerkosaan seorang ayah terhadap anaknya bahkan masih segar dalam ingatan kita adanya seorang suami yang yang membunuh istrinya ayau bahkan sebaliknya. Dari kejadian-kejadian seperti disebutkan di atas mengandung arti bahwa rumah tangga yang dipengaruhi oleh modernisme dan sekularisme telahb jauh dari nilai-nilai moral dan agama.
Tercabutnya nilai-nilai moral dan agama membuat fungsi ideal keluarga (rumah tangga) menjadi bergeser pula, yang tertinggal hanyalah fungsi seksual. Padahal fungsi keluarga secara ideal memiliki fungsi perlindungan, fungsi pendidikan, fungsi agama, ekonom, ppolitik, reksreasi dan fungsi reproduksi dan dari keseluruhannya saling memeliki keterkaitan yang apabila hilang salah satu diantara fungsi tersebut, maka fungsi keluarga secara ideal akan hilang pula dan akan menyebabkan ketimpangan makna keluarga itu sendiri.
Ditambah lagi dengan adanya anggapan bahwa emansipasi wanita adalah menyamakan wanita dengan pria dalam segala-galanya, seolah-olah sedang terjadi persaingan anatara suami da isteri yang berkarier  yang berakibat pada biasnya hak dan kewajiban antara suami dan  istri , sehingga kepemimpinan dalam keluarga di pegang oleh dua orang kepala keluarga yang kedua-duanya memilimi wewenang yang sama, dan pada akhirnya menimbulkan krisis kepemimipinan dalam keluarga, sertahal yang tak dapat dilupakan adalah akan terjadi keterasingan diantara anggota keluarga  (terutama pada anak-anaknya).
Disatu pihak, memang kita bergembira dengan adanya emansipasi wanita, karena peranan wanita dalam pembangunan pada saat inii dapat lebih ditingkatkan, sehingga banyak kaum wanita yang mampu berperan ganda, mereka mampu membangun keluarga dan sekaligus berkarya untuk kemajuan bangsanya. Akan tetapi dipihak lain, yang cukup menyedihkan adalah tidak sedikit wanita yang lari dan mengabaikan urusan keluarganya karena mengejar kariernya.
Untuk mengembalikan dan merekontruksi keluarga (rumah tangga) pada sebuah keluarga yang baik, sejahtera dan bahagiayang di dalamnya terdapat ketentraman (sakinah), penuh kash sayang (dalam bahasa Al-Quran : keluarga mawaddah wa rahmah) yang didadasari dengan tanggung jawab setiap individu pada Allah Swt. Tentunya harus dikembalikan pada dasarnya yaitu : Al-Quran yang di dukung oleh As-Sunnah (hadits) sebagai bayan dari Al-Quran.
Pertanyaan kita selanjutnya adalah bagaimana membangun keluarga didasarkan pada Al-Quran dan As-Sunnah itu? Sebab ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah kehidupan keluarga pun tersebar dalam berbagai surat. Sehingga apabila seseorang ingin memperoleh gambaran bagaimana cara hidup berkelurga menurut Al-Quran secara utuh, haruslah membaca ayat Al-Quran secara keseluruhan, serta harus mengadakan penelitian tentang ayat- ayat Al-Quranyang berkenaan dengan kehidupan keluarga itu, dan tak kalah pentingnya, kita pun harus
“Iin Nuraeni”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar