Sebagai seorang
muslim tentulah kita pernah mendengar hadits ini kalo yang belum harap diamati
secara seksama “Cintailah kekasihmu secara wajar saja, siapa tahu suatu ketika ia menjadi musuhmu,
dan bencilah musuhmu secara wajar juga, siapa tahu suatu saat ia akan menjadi
kekasihmu”. Sebuah nasihat ini yang dinilai oleh sebagian ulama sebagai hadits
Rasulullah saw ini merupakan sebuah petuah yang sangat bermakna bagi kehidupan.
Perasaan yang muncul
dalam hati manusia merupakan sebuah naluri yang biasa kita rasakan dalam proses
kehidupan yang kita jalani saat ini. Adakalanya kita dapat merasakan cinta kepada
orang yang kita kasihi dan ada pula terkadang muncul rasa benci kepada
seseorang yang telah membuat kita kecewa ataupun marah. Pada hakikatnya dua
perasaan ini sangat terikat erat dalam kehidupan kita. Kita melewati dua
perasaan ini selama kita bernafas.
Sadar maupun tak
tersadar dua persaan ini berjalan beriringan dalam kurun waktu yang cukup
melelahkan bagi setiap insan yang merasakn kedua-duanya, ada pula yang
menikmati semua fase ini secara suka cita atas rasa syukur yang telah di
berikan Allah Swt.
Cinta dan benci
merupakan sebuah naluri manusia. Tidak heran agama memberikan petunjuk atau
nasihat kepada umat manusia agar dapat menjadikannya sebuah pembelajaran dalam
hidup. Agar apabila kita dihadapkan merasakan kedua perasaan tidak secara
berlebihan karena seperti yang kita ketahui sesuatu yang berlebih-lebihan
sesugguhnya sangat di benci Allah Swt.
Kita sebagai manusia
memiliki kalbu yang dalam bahasa aslinya adalah “bolak-balik”. Sedikit mengupas
akan hal tersebut hati manusia yang biasa kita kenal sebagai kalbu, karena hati
manusia sering berubah-rubah, terkadang ke kanan dan tak lama kemudian akan
beralih ke kiri. Semua itu menggambarkan bahwa hati kita banyak melewati
hal-hal yang merubah kita menjadi orang yang tidak menentu atau tidak tahu
menempatkan dimana kita akan singgah dalam menentukan pilihan sama dengan bila
kita sebagai manusia yang tidak memiliki pegangan hidup dan tolak ukur yang
pasti.
Beda halnya dengan manusia
yang dapat menetaralisir akan hal tersebut manusia yang berhasil melabui
hatinya yang sedang tidak konsisten dalam menentukan pilihan. Cinta dan benci
mengisi suatu waktu, sedangkan waktu terus berjalan tanpa harus
mengulur-ngulur. Karenanya cinta dan bencipun demikian dapat berlalu begitu
saja.
Seseorang akan
merasa dirinya ada bila ia merasakan adanya rasa cinta dalam diri maupun rasa
cinta yang diberikan oleh orang lain kepada dirinya. Seseorang yang memiliki
rasa cinta akan merasa memiliki segala yang ada dan terkadang menghiraukan
sesuatu yang tidak ada dalam dirinya. Saat manusia melewati fase remaja yag
biasanya identik dengan tumbuhnya rasa cinta kepada lawan jenis apalagi bila
cintanya dapat terbalaskan oleh orang yang kita tuju tentu akan menampakan
keadaan “ada”.
Dan
apabila cinta manusia burujung atau biasa yang kita sebut dengan putus tentu
kita sebagai manusia akan merasakan ketiadaan atau hampa karena cinta yang
selama ini berjalan telah the end dengan kekasih. Biasanya selesai cinta kita
kepada lawan jenis tersebut akan muncul rasa benci karena merasa cinta
dikhianati atau bahkan karena kecewa yang secara berlebihan. Adapula respon
yang di rasakan biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa walaupun terasa aneh
masih ada yang merasakan demikian walaupun hanya dua dari sepuluh orang yang
merasakan. Sama halnya dengan cinta kepada sahabat semuanya akan terasa instan
karena serba cepatnya mengambil keputusan, maka yang yang terlahir serba cepat,
yaitu cepat terjalin dan cepat pula terputus. Terkadang cinta yang tumbuh dalam
persahabatan antar manusia khususnya orang dewasa atas dasar manfaat sehingga
sifatnya sama hanya sementara.
Seperti tulisan Abu
Hayyan At-Tauhidy ” perjalanan yang paling panjang adalah mencari sendiri”
sedangkan menurut Aristoteles sahabat adalah anda sendiri, hanya saja
angagaplah dia sebagai orang lain yang dapat mengerti kita. Mengingat akan hal tersebut seperti yang ditegaskan dalam Al-Quran :
“Teman-teman
akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali
orang-orang yang bertakwa.” (QS.43: 67).
Mudah-mudah kita
termasuk kedalam golongan orang-orang yang bertaqwa karena hanya orang yang
bertaqwalah yang memiliki pegangan hidup dan tolak ukur yang pasti, yang
bersumber dari Allah yang kekal. Sesungguhnya banyak pelajaran yang dapat
dipetik dari segala peristiwa yang terjadi dari awal kita tahu hingga kita
menjadikannya sebagai sebuah pedoman untuk bekal kehidupan yang lebih baik.
Semoga dengan semua ini menjadikan kita semakin percaya akan kebenaran
petunjuk-petunjuk agama. Amin ya Robbalalamin.
“Iin Nuraeni”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar