Selasa, 20 November 2012

Shalat adalah kebutuhan bukan hanya kewajiban


Manusia adalah mahluk  yang memiliki naluri cemas dan mengharap, kita insan yang lemah selalu membutuhkan sandaran, terutama disaat kita merasa cemas ketika berharap akan sesuatu. Kanyataan sehari-hari membuktikan bahwa bersandar pada mahluk, betapapun tinggi kekuatan dan kekuasaannya, seringkali tidak  membuahkan hasil. Yang mampu hanyalah Tuhan semata. Yang kamu seru selain Allah tidak memiliki apa-apa walau setipis kulit  ari sekalipun. Jika kamu meminta  kepada mereka, mereka tidak mendengar permintaanmu dan walaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankna (QS 35 : 13-14). Hai manusia kamulah orang-orang yang miskin (butuh) kepada Allah dan Allah Maha kaya lagi Maha Terpuji (QS 35 :15).
Rasulullah Saw kembali dari perjalanan Isra’ Miraj dengan petunjuk Ilahi yang tegas tentang kewajiban shalat, kewajiban ini diketahui secara pasti oleh setiap muslim dari generasi ke generasi.
Berbicara mengenai shalat menimbulkan pertanyaan di dalam benak kita: apakah topik mengenai shalat tersebut sudah using atau tak perlu di bicarakan lagi mengingat waktu penetapannya yang telah begitu  lama. Ataukah kita masih perlu meliat pelaksanaannya dikalangan umat Islam, yang tak jarang mengabaikannya di samping itu juga masih banyak diantara kita melaksanakannya secara tidak sempurna?
Mengahadapkan jiwa dan raga kepada Allah  merupakan suatu kewajiban keagamaan. Sebab agama  sebagaimana diakui dan diyakini oleh setiap penganutnya, menetapkan bahwa Allah menguasai alam raya, mengusai hidup mahluknya termasuk kehidupan manusia. Dialah Maha mutlak, Maha kuasa, dan Maha sempurna dalam segala sifat keutamaan . keyakinan akan ketuhanan seperti itu, menurut pembuktian konkret, nyata secara amaliah, bukan hanya dalam fikiran atau hati. Shalat adalah salah satu yang di tetapkan Allah sebagai pengejawantahan dari keyakinan tersebut.
Manusia., lebih-lebih para ilmuan, membutuhkan kepastian tentang tata kerja ala mini demi pengembangan ilmu dan penerapannya. Kepastian ini tidak dapat diperoleh kecuali dengan keyakinan adanya pengendali dan penguasa tunggal yang Maha Esa, yaitu Allah.
Shalat seharusnya menjadi kebutuhan bagi umat muslim seperti kita bukan untuk menghindari dan melalaikan shalat. Diantara kita tidak sedikit menggambarkan shalat sebagai sebuah beban dan kewajiban. Sadar atau tidak kebutuhan dalam benak kita hanya sandang, papan dan pangan. Benarkah bila demkian? Apabila demikian adanya kita harus mengetahui bahwa shalat sendiri sesungguhnya menggambarkan pemahaman seseorang menyangkut tata kerja alam raya ini yang memberikan ketenangan  dan kemantapan kepada manusia, khususnya para ilmuan, dan karena itu “ Shalat kepada Yang Maha Esa merupakan pertanda kemajuan pemikiran manusia dalam memahami tata kerja alam raya ini”.
Pada dasarnya seorang muslim dalam shalatnya menghimpun segala bentuk dan cara pengakuan, penghormatan dan pengagungan yang lebih dikenal oleh umat manusia. Didalam shalat, ada “isyarat  penghormatan dengan tangan, berdiri tegak, menunduk, rukuk, sujud, puji-pujian, doa dan harapan”.
Walaupun hanya lima kali dalam satu hari Allah mewajibkan kita sebagai umatnya menghadap kepada-Nya. Tapi tetap saja kita seringkali mengabaikannya dan menganggapnya sebagai  suatu yang lumrah terjadi dalam kehidupan sehari-hari bila ada salah satu dari lima kewajiban kita untuk mengerjakan shalat kita malah tidak melaksanakannya. Malu rasanya, jika kita yang telah mendapatkan anugrah-Nya yang tidak terbilang mengabaikan kewajiban tersebut. Apalagi shalat merupakan kebutuhan kita. Malu pula rasanya, ika jika kita hanya  mau melakukan shalat karena terpaksa akan sesuatu, kepepet atau terdesak, saat cemas dan mengharap sesuatu, kita baru mau menghadap kehadirat-Nya. Naudzubillah…
Tentu saja yang kita ketahui Maha Adil Allah atas segala sesuatu, ketika Dia tidak mengenal (dengan Rahmat da kasih sayang-Nya) orang-orang yang tidak pernah mengenal-Nya, yaitu orang-orang yang enggan memenuhi panggilan-Nya.
Semoga kita semua menjadi muslim yang senantiasa dapat melaksanakan ibadah dengan baik terutama shalat lima waktu walaupun tidak membutuhkan waktu banyak seringkali kita mengabaikannya. Ucapan lebih mudah daripada tindakan hanya saja asalkan kita mau berusaha mencerna teori kebaikan yang orang lain berikan kepada kita. Kenapa tak berusaha menjalaninya sebagai sebuah  petuah baik dalamm menjalani hidup..
semoga bermanfaat..
“Iin Nuraeni”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar